Pondok Pesantren Ali bin Abi Thalib Purbalingga

Membiayai para penuntut ilmu adalah salah satu penyebab terbukanya pintu-pintu rezeki

Kiat Sederhana Memenangkan Hati Manusia

Tazkiyah : Kiat Sederhana Memenangkan Hati Manusia
Oleh (Santri Ali Bin Abi Thalib Purbalingga)

Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk menjalin hubungan yang baik dengan Allah, akan tetapi juga membimbing dan memberi teladan melalui Rasulullah shallalahu ‘alahi wa sallam.

Bagaimana menjadi pribadi yang baik, mudah bergaul, diterima bahkan disukai oleh orang lain, semua telah disampaikan kepada manusia.

Berikut kiat-kiat sederhana untuk meraih simpati dan memenangkan hati manusia yang terinspirasi dari Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah.

Tawadhu

Sikap rendah hati menumbuhkan simpati. Manusia yang terhormat bukanlah mereka yang suka memamerkan kelebihan diri dan menyebutkan keutamaan yang dimiliki.

Secara sosial, orang yang menuntut pengakuan, minta dihargai dan dipuja layaknya dewa, justru terlihat memuakkan dan menjadi racun dalam pergaulan.

Sebaliknya; orang yang biasa-biasa saja, humble, tidak gila kehormatan, bahkan minta diperlakukan sama dengan yang lain ketika diistimewakan, justru sangat dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.

Demikianlah teladan mulia yang ditunjukkan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Suatu ketika ada seseorang yang terlihat begitu ketakutan saat berbicara dengan beliau, sampai-sampai seluruh tubuhnya bergetar.

Rasulullah pun bersabda kepadanya, “Tenangkanlah dirimu. Aku ini manusia biasa. Bukan raja. Aku anak dari seorang perempuan yang memakan al-qadid; daging yang diberi garam dan dikeringkan (makanan biasa).” (HR. Ibnu Majah)

Pribadi yang tawadhu tidak merasa bahwa dirinya lebih besar dan lebih hebat daripada orang lain. Sehingga ia tidak suka menonjolkan dirinya agar dipuji.

Syaikh Sa’ad Al-Ghamidi, dalam salah satu khutbahnya berpesan,

“Menonjolkan diri dengan berlagak layaknya seorang guru besar, serta memandang remeh dan rendah kaum muslimin, adalah sifat setan.

Sifat ini tidak membuahkan apa-apa kecuali kebencian dan terputusnya tali silaturahim. Sifat ini tidak menunjukkan apa-apa kecuali jiwa yang sakit. Wal ‘iyadzu billah.”

Belajarlah tawadhu dari Rasulullah. Sosok yang disukai dan disegani baik kawan maupun lawan. Bayangkan, beliau adalah makhluk terbaik yang Allah ciptakan. Beliau sudah pernah mengalami Isra’ Mi’raj.

Sudah sampai ke langit tujuh dan sidratul muntaha. Meski demikian hebatnya pengalaman Sang Rasul, beliau tetap humble setelah kembali ke bumi dan sikapnya tidak melangit.

Menyapa anak kecil. Menjahit baju sendiri. Membaur dengan masyarakat. Bahkan memaklumi orang Arab Badui yang berlaku kasar dan kurang beradab kepadanya.

Dermawan

Anas bin Malik bersaksi bahwa Rasulullah tidak pernah dimintai sesuatu apapun kecuali beliau akan memberikan apa yang diinginkan oleh peminta.

Dikisahkan bahwa Rasulullah memberikan kambing kepada seorang lelaki yang baru saja masuk Islam dan meminta-minta kepada beliau.

Kemudian lelaki itu menceritakan kedermawanan Sang Rasul kepada kaumnya, “Masuk Islamlah kalian semua. Karena sesungguhnya Muhammad memberi sesuatu tanpa ada rasa takut akan ditimpa kefakiran.” (HR. Muslim 2132)

Kisah di atas menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan Rasulullah dalam memenangkan hati manusia. Sebab tidak semua orang dapat tersentuh untuk memeluk Islam hanya dengan kata-kata dan penjelasan.

Ada yang hatinya baru terbuka dengan pemberian harta. Ada juga yang merasa simpati dengan adab dan pola interaksi yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Namun ada juga yang justru tertarik dengan agama Islam setelah menyaksikan wibawa, digdaya, keagungan dan kekuatan yang dimiliki kaum muslimin.

Lembut

Rasulullah mempunyai tekad sekuat baja tapi tutur katanya halus selembut sutera. Beliau sangat berhati-hati dalam berbicara; pantang menyakiti siapapun dengan lisannya.

Ketika haknya tidak dipenuhi dengan baik, beliau tidak lantas menyudutkan orang yang lalai dengan pertanyaan mencecar.

Anas bin Malik mengutarakan testimoninya, “Aku menjadi pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun.

Demi Allah, selama itu, beliau tidak pernah sama sekali mengucapkan kata “uff” atau menghardikku dengan berkata, “Kenapa kamu melakukan ini?!”

Selain dalam bertutur kata, sifat “al-hilmu” (lembut) juga beliau contohkan dalam bersikap, yaitu kemampuan untuk menahan amarah.

Ketika ada orang Arab Badui kencing di masjid dan membuat geram para sahabat, Rasul justru memperlakukannya dengan lembut.

Di momen yang lain, ketika orang Badui menarik kainnya dan menyisakan luka di leher saat meminta pertolongan kepada beliau, Rasul tidak marah bahkan memenuhi permintaan si Badui.

Hormat

Bersikap hormat kepada orang lain merupakan salah satu akhlak qur’ani yang dijunjung tinggi.

Dalam surah Al-Baqarah: 83 Allah Azza wa Jalla berfirman, “wa qụlụ lin-nāsi ḥusna.” Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.

Lafal yang digunakan adalah ‘an-naas’ semua manusia. Artinya, kepada semua orang kita harus bersikap hormat dan tidak boleh merendahkan mereka.

Terutama dalam bertutur kata. Siapa pun mereka, dari suku atau golongan mana pun, berhak untuk diperlakukan dengan baik.

Sikap hormat sangat dibutuhkan utamanya ketika terjadi perbedaan pendapat. Khususnya para penuntut ilmu, harus lebih beradab kepada para ulama yang berbeda mazhab.

Tidak menyerang mereka secara personal, apalagi berburuk sangka kepada ulama. Sering dijumpai di media sosial para pelajar yang tidak menghormati ulama karena berbeda mazhab dan harakah.

Akhlak buruk seperti ini hanya menebarkan kebencian dan menumbuhkan bibit-bibit permusuhan. Sekiranya memang terdapat ikhtilaf, harus disikapi dengan bijak.

Di antara adab dalam menghormati orang lain yang diajarkan dalam Islam: senyum, salam, tidak memotong pembicaraan, dan memerhatikan lawan bicara sebagaimana disampaikan oleh Habib bin Abu Tsabit dalam Syu’abul Iman karya al-Bayhaqi, 6/8255.

Sebab dengan begitu, orang akan merasa dihargai.

Peduli

Cara terbaik untuk memenangkan hati manusia adalah dengan sering-sering membantu mereka. Ini bukti nyata dalam menunjukkan kepedulian.

Hal paling sederhana pun bisa dilakukan. Misalnya: senyum, sapa, salam, berwajah manis, dan saling bertukar hadiah.

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”  (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 594)

Nabi juga bersabda, “Kalian tidak akan dapat meraih hati manusia dengan kekayaan kalian, tetapi kalian dapat meraih hati mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bazar)



Post Terbaru

Khutbah Jum’at: Keutamaan dan Amalan di Bulan Dzulhijjah

Khutbah : Khutbah Jum’at: Keutamaan dan Amalan di Bulan DzulhijjahOleh (Santri PPMTQ Ali Bin Abi Thalib) Facebook Twitter Youtube Instagram ...

Bismillah menurut pendapat ulama ahli fiqih dan ulama ahli hadits

Fiqih : Hukum membaca Basmalah dalam sholat dengan pelan (sirr) atau dengan keras (jahr)Oleh (Ustadz Thoha Husein Al-Hafidz) Facebook Twitter ...

Apakah basmalah merupakan sebuah ayat alquran atau tidak?

Fiqih : Nikmat Terbaik Dunia AkhiratOleh (Santri Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Purbalingga) Facebook Twitter Youtube Instagram Whatsapp Khutbah ...

Akibat Menunda Taubat

Tazkiyah : Akibat Menunda TaubatOleh (Santri Ali Bin Abi Thalib Purbalingga) Facebook Twitter Youtube Instagram Whatsapp Dalam aksinya menggoda umat ...

Kiat Sederhana Memenangkan Hati Manusia

Tazkiyah : Kiat Sederhana Memenangkan Hati ManusiaOleh (Santri Ali Bin Abi Thalib Purbalingga) Facebook Twitter Youtube Instagram Whatsapp Islam tidak ...

Apakah Sabar Ada Batasnya?

Tazkiyah : Apakah Sabar Ada Batasnya?Oleh (Santri Ali Bin Abi Thalib Purbalingga) Facebook Twitter Youtube Instagram Whatsapp Sebagai amalan hati ...

Program Terdekat Kami

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Assalamualaikum Kak 👋
Ada yang bisa kami bantu?